[FILM REVIEW] Pengabdi Setan by Joko Anwar | Film Horor Indonesia Terbaik | Nenekku Pahlawanku - Bonjour gens!

Tuesday, 10 October 2017

[FILM REVIEW] Pengabdi Setan by Joko Anwar | Film Horor Indonesia Terbaik | Nenekku Pahlawanku

Well ya, judulnya agak sedikit nyeleneh ya? Dan saya bawa-bawa judul lagunya Wali Band, “Nenekku Pahlawanku”, tapi serius kalau kalian udah nonton pasti bakal setuju sama ini.

Jadi selama bulan September hingga Oktober ini, netijen Indonesia dibuat geger dengan adanya film Pengabdi Setan karya sutradara kondang Joko Anwar. Selama dua bulan itu pula promosi pun massive dilakukan melalui media sosial baik itu Instagram ataupun Twitter. Tak kalah bikin ramai adalah meme yang banyak bermunculan mengenai sosok Ibu yang membuat orang makin penasaran seberapa keren sih film horor ini sampai banyak orang repot-repot bikin meme?

Pada awalnya sama kaya kalian, aku underestimate banget sama film horor Indonesia. Bukannya nggak menghargai karya negeri sendiri, cuma bukan rahasia lagi kalau film horor kita kebanyakan cuma jualan “dada” dan “paha” yang dibalut judul super aneh, well paling nggak buatku begitu. Aku udah nggak pernah nonton cerita setan-setanan ala Indonesia semenjak Disini Ada Setan tamat. Aku sudah mengeneralisasi bahwa semua film horor Indonesia tak layak tonton,

hingga akhirnya aku nonton Pengabdi Setan...

Well film seperti apa sih Pengabdi Setan itu? Beneran serem?



Rating: 17+
Genre: Horor
Sutradara: Joko Anwar
Durasi: 1jam 47menit
Cast: Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat, Ayu Laksmi, Bront Palarae, Dimas Aditya
Review: 8.3/10 IMDB


Sinopsis
Penyakit yang begitu parah membuat ibu Rini tak mampu menggerakkan tubuhnya dan hanya berbaring di tempat tidur. Untuk memanggil dan meminta bantuan, ibu Rini harus membunyikan lonceng. Berbagai upaya dilakukan keluarga Rini untuk mendapatkan uang tambahan, termasuk meminta royalti milik sang ibu yang sempat berkarier di dunia tarik suara, sebelum akhirnya jatuh sakit selama tiga setengah tahun tanpa diketahui penyebabnya.
Anak kedua keluarga itu, Tony (Endy Arfian), pun rela menjual sepeda motor dan barang pribadi lainnya demi menolong keluarganya. Sang ayah (Bront Palarae) pun harus berhemat dan sesekali bekerja ke luar kota karena harus tetap membiayai keempat anaknya. Upaya keluarga untuk membuat sang ibu sembuh dari penyakitnya gagal setelah Rini menemukan sang ibu terjatuh di lantai kamarnya dan menghembuskan nafas terakhir.
Kematian sang ibu ternyata jadi awal dari teror di rumah keluarga Rini. Ia dan ketiga adiknya didatangi oleh sosok yang menyerupai sang mendiang ibu. Situasi ini diperparah dengan kondisi ayah yang harus meninggalkan mereka untuk bekerja di luar kota. Rini, ketiga adik, serta neneknya yang berada di rumah secara interns menghadapi penampakan hantu mengerikan: ibunya sendiri. Teror demi teror berdatangan silih berganti. Untuk mengungkap misteri rentetan kejadian mencekam itu, Rini bahkan harus meminta bantuan kepada kiai di kampungnya, dan paranormal sekaligus kawan neneknya yang tinggal di kota.

---------------------Spoiler Alert!!!! ---------------------

Review
Well, di awal film kita disuguhi dengan setting di tahun 1980 dengan Rini yang memiliki badan berisi, Joko Anwar bilang kalau tren tubuh wanita jaman dulu adalah berisi dan semok. Sedikit kejutan, Joko Anwar juga berakting disitu meskipun cuma jadi cameo. Scene berpindah ke kehidupan keluarga Rini dan kondisi Ibu yang memprihatinkan.
Anak-anak Ibu ini ketakutan sendiri dan selalu ogah-ogahan kalau harus ngurusin Ibu mereka. Kalau aku jadi mereka ya bakal sama sih, habis setting kamarnya dibuat seram, singlu dan ada lemari kaca yang memantulkan bayangan Ibu ini. Hal yang bikin merinding itu pas si Rini masuk kamar dan mendapati Ibu bisa berdiri (padahal dia cuma bisa berbaring harusnya) dan waktu dipegang pundaknya, ternyata...
Kriiiiiingggg!!!
Si Ibu yang asli masih tidur di ranjang. Iya, itu setan, dan itu mimpi...
Tapi cukup bikin aku teriak kenceng ga karuan.          
Film ini cukup mengandung unsur twist yang aku suka banget sih. Nggak nyangka aja kalau ternyata si Ian, adik bungsu merekalah the real demon dalam keluarga itu. Terus ternyata Nenek yang meninggal itu arwahnya masih ada disana dan dialah yang membantu menjaga keluarga itu dari gangguan arwah Ibu yang jahat.
Nenek ini yang mencoba ‘membunuh’ Ian dengan cara menarik ke dalam sumur dan merasuki tubuh Bondi. Sayangnya semua orang nggak tahu dan berpegang teguh dengan anggapan bahwa ‘selama kita bersatu dan saling menyayangi tak ada yang bisa menyakiti kita’, hingga mereka mati-matian melindungi Ian, padahal yang mereka lindungi itulah penyebab teror semua ini.

idntimes.com

Hal yang bikin aku nangis dan sedih banget soal aksi Nenek adalah, ketika seluruh mayat hidup bangkit dan menyerang keluarga Rini, nenek ini ternyata yang menghalangi pintu biar mayatnya nggak masuk dan menyerang keluarganya. Sumpah inget scene ini aku kepengen nangis, ekspresi lemah neneknya dapet banget, mana rambutnya panjang beruban dan kerutan di wajahnya itu lho persis nenek aku banget. Pokoknya Nenekku Pahlawanku deh!
Masih banyak hal yang membuat penasaran di film ini yang sepertinya memang sengaja dibuat untuk dijadikan sekuelnya nanti. Pertama, apa yang dikatakan Bapak ke Ibu sebelum Ibu meninggal, apa yang diucapkan Budiman kepada Hendra, siapa orang yang menggedor pintu Budiman hingga tiba-tiba Budiman sudah ada di rumah keluarga Rini. Siapa dan apa motivasi Darminah beserta sang suami dengan mengatakan ‘jangan biarkan mereka pergi’ dan ‘ini waktunya panen’.

www.duniaku.net

Ada hal-hal yang menurutku kurang aneh sekaligus kritik dalam film ini. Pertama, adalah penampilan Hendra yang well nggak banget rambutnya menurutku. Baiklah dia memang cowok di tahun 1980 tapi rambutnya itu kelihatan banget wig-nya. Kedua, sikap nggak sopan keluarga Rini saat beberapa hari mereka menumpang di rumah pak ustadz dan mereka sama sekali nggak pamit pas mau pulang. Ketiga, si Bondi yang kesurupan tiba-tiba bisa sadar tanpa ada scene penjelasnya.
Secara keseluruhan sih film ini bagus, selain kekurangan yang aku baru saja sampaikan. Suasana mencekam didukung banget dengan scoring yang bikin merinding abis. Lalu kemunculan setan-setan itu yang sama sekali nggak terduga dari mana dan kapan munculnya. Semuanya bikin kaget dan sukses bikin satu bioskop teriak. Aku sendiri sih sebenernya terus-terusan menghalangi mata ku dari menatap layar bioskop secara langsung. Nggak kuat boo’!
Dan ya, film ini recomended banget sih buat kalian yang suka film horor berbalut twist. Aku pikir akan banyak yang suka sama film ini karena ini film horor Indonesia pertama yang benar-benar menawarkan cerita horor setelah sekian lama film ‘horor’ kita banyak diisi dengan film bertema keramas, ngesot, atau perawan-perawanan.

Rate 8.5/10



xoxo thankyou for reading xoxo

1 comment: